Teks

Selamat datanng di Blog BEM Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Untuk saran silahkan dapat dikirimkan ke Email kami: bemf.ushuluddin_uinjkt@yahoo.co.id

Kamis, 10 Mei 2012

Alam yang Abadi dan Tuhan yang Azali

Oleh Hairus Saleh

Mahasiswa Aqidah Falsafah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Kuliah Bersama Prof. Mulyadi Kartanegara)
Failasuf mengatakan bahwa yang azali hanya Allah. Tetapi yang abadi banyak. Allah mengatakan al awwalu wal akhiru maksudnya Allah tidak punya permulaan dan tidak punya akhir. Waddhahiru, maksudnya Jalluddin Rumi mengatakan bahwa alam ini adalah Tuhan dalam penyamaran zat, indifgai, artinya bahwa realitas tidak bisa dipisahkan dengan hubungannya dengan Tuhan. Ibarat cermin maka dialah gambar yang ada di cermin yang memantulkan wajah Tuhan. Dan itu bukanlah Tuhan, ia adalah tajalli atau manifestasi Tuhan.
Failasuf mengatakan bahwa alam tercipta dan diciptakan sejak wujudnya Allah, dengan alasan tidak satu pun yang menghalangi kehendak tuhan untuk menciptakan alam. Ia sebagai konsekuensi keberadaan tuhan. Itu berarti bahwa alam diciptakan allah sejak zaman azali. Sedangkan sesuatu yang ada sejak zaman azali itu pasti abadi keberadaannya.
Lantas timbul permasalah,bagaimana membedakan antara keabadian tuhan dan keabadian alam, atau bagaimana membedakan dantara keqodiman tuhan dan alam?
Failasuf menjawabnya bahwa kita tetap bisa membedakan antara tuhan dengan alam. Manusia tetap bisa membedakan antara sebab dan akibat. Minusia tidak mungkin tidak bisa membedakan antara sebab dan akibat. Karen memang terpisah secara urutan, meski pun antata keduanya sama berdasarkan waktu matematis.
Di dalam hukum sebab akibat, selalu ada yang lebih dulu (prioritas). Setiap sebab akibat pasti ada yang mengatakn bahwa yang satu adalah sebab dan yang satu adalah akibat. Sedangkan sebab harus mendahului akibat. Dalam kasus matahari, waktu adanya matahari dan muculnya cahaya adalah sama. Namun mengepa matahari dikatakan lebih dahulu?
Dengan itu failasuf membagi waktu. Ada mendahuli dalam arti waktu, ada yang mendahului dalam arti logis. Sebab harus lebih dahulu dari pada akibat, tetapi dalam prakteknya sama aja. Matahari dan cahaya hadir dalam objek kesamaan. Tetapi kita asumsikan bahwa matahari adalah sebab yang mendahului. Maksud mendahului bukan dalam arti waktu, tetapi dalam arti logis. Fakta ini merupakan bantahan terhadap yang mengatakan dan meragukan tidak bisa dibedakan antara tuhan dan alam jika ia ada dalam waktu bersamaan (waktu matematik).
Ibnu Sina mengatakan bahwa alam pada dirinya adalah mumkin al-wujud. Kalau alam itu merupakan mumkinun wujud, maka tidak mungkin mengaktualkannya sendiri. Di mana terdapat mumkinul wujud, maka harus diaktualkan. Kalau mumkinul wujud itu dibiarkan, maka tidak pernah aktual karena sifat dasar dari wujud potensial itu adalah bahwa jika dia diaktualkan tetapi tidak bisa mengaktualkan dirinya sendiri. Sifat kemungkinan
Kalau alam yang pada dirinya adalah mumkin al-wujud, maka sampai kapan pun ia tidak akan mewujud kecuali ada yang mengaktualkannya dan yang mengaktualkannya sudah pasti ia adalah aktual, karena kalau ia potensi juga. Jangankan mengaktualkan orang lain, mengaktualkan dirinya sendiri saja tidak bisa? Jadi jika alam dibiarkan, tanpa bantuan Allah, ia hanya ada dalam potensi saja. Dengan bantuan Allah, kemudian alam menjadi seperti yang kita alami.
Hanya yang aktual yang bisa mengaktualkan yang lain. Kalau tidak, ia hanya akan menjadi kemungkinan saja. Sekarang alam ternyata alam sudah maujud, padahal alam tidak akan maujud kecuali bantuan Tuhan. Kalau alam yang pada dirinya adalah potensi secara aktual, padahal dia tidak bisa mengaktualkan diri sendiri. Maka logika kita mengatakan berarti ada yang mengaktualkan, yang bukan dirinya dan yang mengaktualkannya berarti dirinya sendiri sudah aktual. Hanya yang aktual bisa mengaktualkan potensi, yang potensi tidak mengaktualkan diri sendiri maupun orang lain. Nah yang aktual itu tidak lain dari pada Allah. Istilah aktual itu disebut wajibul wujud. Sedangkan yang diaktualkan disebut potensial wujud.

Selengkapnya tentang falsafah KLIK...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar